Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Purworejo

Masjid Al Iman Loano

Merupakan bangunan dengan facade tunggal dan mempunyai denah persegi panjang. Struktur penyusun bangunan pondasi batu dan dinding batu bata diplester.tapak relatif sama dengan tanah. Orientasi bangunan ke arah timur menghadap jalan raya. Sebelah depan merupakan halaman dipaving. Utara dan selatan terdapat tembok setengah dinding sebagai pagar bangunan, pintu masuk ram besi ditengah sebelah depan. Pada halaman terdapat dua buah kolam yang ada di kanan kiri pintu masuk. Di sudut depan tenggara terdapat bangunan tempat wudlu yang semula merupakan kolam. Masjid ini terletak di lingkungan pemukiman penduduk. Selain kolam dan tempat wudlu komponen lainnya adalah maqsura, mihrab (mimbar), pawestren, bedug dan kentongan. Bangunan terbagi menjadi dua yaitu bangunan induk dan serambi yang masing-masing mempunyai bentuk atap yang berbeda.

  1. Bangunan serambi

Merupakan bangunan setangkup, atap limasan ditutup genteng vlam. Lantai keramik. Di sisi utara selatan merupakan dinding tembok dengan sebuah jendela panil kayu di masing-masing sisinya. Atap bangunan ditopang empat soko kayu biru yang dikunci oleh balok-balok gantung. Pada tiap sisi ambang atas soko terdapat hiasan krawangan ornamen sulur-suluran warna emas. Balok gantung diukir dengan motif garis horisontal dan pada ujung serta sambungan dengan soko terdapat hiasan ornamen sulur-suluran motif daun dan bunga warna emas. Pada salah satu balok gantung terdapat tulisan Jawa, sedangkan pada salah satu soko terdapat tulisan cat emas 1898 LWN.

Terdapat teras yang ditopang dengan empat kolom yaitu dua kolom batu bata di sisi kanan kiri dan dua kolom kayu persegi sebagai penopang murplat. Atap eternit, lantai keramik dengan tapak lebih rendah dari serambi. Bedug dan kentongan diletakkan di sisi utara ruangan ini. Teras tersebut merupakan bangunan baru.

  1. Bangunan Induk

Merupakan bangunan setangkup, atap tajuk tumpang satu ditutup genteng vlam. Pada puncak atap terdapat mustaka terbuat dari tanah liat, sedangkan bagian bawh atap atas terdapat boven kawat ram yang berfungsi sebagai sirkulasi udara dan pencahayaan. Atap ditopang oleh 4 buah soko guru dan 12 soko rowo kayu jati berbentuk bulat masif. Masing-masing soko berdiri di atas umpak batu di cat putih berbentuk parabol dan dihubungkan dengan balok gantung rangkap di ambang atasnya. Mustoko soko rowo terdapat ukiran geometris, sedangkan balok gantung diukir motif garis horisontal berundak. Plafon lambarsiring dengan lantai keramik yang merupakan pasangan baru.

Terdapat mohrab disisi tengah dinding sebelah barat dengan pintu lengkung pada ambang atasnya. Di atas terdapat tulisan arab. Maqsura (mimbar) biru diletakkan di sudut barat laut ruangan. Atap mirop kayu biru dengan lisplank motif geometris. Sisi depan terbuka, sedangkan ketiga sisinya terdapat jendela panil kaca. Maqsura dicat warna kuning dengan setrip-setrip garis warna biru pada beberapa bagian. Pawestren sepertiga ruangan dan dibentuk dari sekatan triplek.

Terdapat beberapa jendela kupu tarung dengan panil kayu dengan ram kayu vertikal. Di depan terdapat tiga buah pintu kupu tarung panil kayu berjajar. Pintu tengah merupakan pintu utama yang dibuka setiap hari, sedangkan pintu lainnya dibuka pada acara-acara khusus seperti pengajian, mensyolatkan jenazah dsb.

 

Latar Sejarah :

Daerah Loano pada masa kekuasaan kerajaan Islam merupakan kekuasaan Kadipaten Singgelopuro. Masjid tersebut merupakan masjid Kawedanan Loano.Diceritakan oleh masyarakat setempat bahwa masjid tersebut dahulu terletak di pinggir sungai kuarng lebih satu kilometer sebelah barat lokasi sekarang. Pada suatu hari soko guru masjid berpindah secara tiba-tiba, kemudian masyarakat beramai-ramai memperbaiki yang dipimpin oleh Cokrojoyo atau Sunan Geseng atas perintah Sunan Kalijogo. Pada saat itu hanya bangunan induk dan serambi dibangun kemudian pada masa Gagak handoko menjabat sebagai patih di Purworejo hingga tahun 1836.

Leave a Reply

Close Menu